Abdullah Bin Saba: Tokoh Yahudi Di Belakang Syiah


Sebelum Islam datang,bangsa Yahudi di kota Madinah telah menguasai sektor perekonomian dan perdagangan.Mereka juga menjadi biang pertentangan antara suku ‘Aus dan Khazraj.Barulah Setelah Rasulullah datang ke Madinah dan menyebarkan Islam,beliau berhasil menyatukan kedua suku yang senantiasa bertikai itu ke dalam naungan Islam.

               Kondisi ini tentu makin mengucilkan Yahudi di Madinah.Sadar akan posisinya yang kian tersudut,Yahudi mengambil jalan pintas dengan mendekat kepada kelompok munafik yang dipimpin Abdullah bin Ubay bin Salul. Tetapi kubu munafik dan Yahudi ini tidak bertahan lama. Mereka dapat dihancurkan oleh kekuatan Islam. Sebagian tokoh-tokoh mereka selamat dan berpura-pura menggabungkan diri dalam kelompok Islam.

Di zaman Khalifah Utsman bin Affan r.a.,muncullah tokoh Yahudi dari Yaman bernama Abdullah bin Saba( kelak menjadi pendiri aliran Syiah). Meski mengaku sebagai muslim ,namun kelakuan Ibnu Saba justru berlawanan dengan pengakuannya. Fitnah menjadi lakon yang dilakukan sehari-hari oleh Ibnu Saba. Mulai dari menjelek-jelekkan para pemimpin muslim hingga melakukan makar untuk menurunkan para gubernur. Sejak masa kekhalifahan Utsmn bin Affan,Ibnu Saba dan para pengikutnya kerap melakukan makar.

               Buah dari sikap Ibnu Saba dan para pengikutnya (Sabaiyah) yang selalu menyulut api fitnah,maka mereka diusir dari kota Madinah dan dilarang memasuki kota tersebut.

               Dasar Yahudi, meski walaupun sudah dipersona non grata di Madinah ,Ibnu Saba lari dan berkeliling ke wilayah Syam (Syiria) ,Mesir,dan Irak. Iman ath-Thabari dalam tarikhnya mengatakan ,”Ketika Ibnu Saba sampai di Syam (Syiria),ia bertemu dengan Abu Dzar al-Ghiffari,dan membujuknya agar membeontak terhadap Mu’awiyah. Dikatakannya bahwa Mu’awiyah pernah mengatakan: “Semua harta benda adalah milik Allah, dan begitu pula segala sesuatu yang ada ini,hakikatnya kepunyaan Allah.” Dengan kalimat ini Ibnu Saba bermaksud menganjurkan agar kaum muslimin mengumpulkan harta sebanyak mungkin untuk kepentingan umat. Dengan kalimat ini pula ,Ibnu Saba mendatngi Abu Darda’,tetapi beliau waspada dengan kehadirannya itu, dan segera menyatakan ; “Siapakah anda? kalau tidak salah anda adalah seorang Yahudi tulen (asli).”

 Di Mesir dan Irak ,Ibnu Saba juga menyebarkan fitnah dengan mengembangkan ajaran ar-Raj’ah (Reinkarnasi) dan mengatakan ; “Bukankah kalian telah meyakini bahwa Isa al-Masih akan datang kembali? Mengapa kalian tidak meyakini bahwa Muhammad saw juga akan datang kembali? Mengapa pula kalian berdiam dir ketika kekuasaan dan kepemimpinan umat dirampas dari tangan Ahlul bait Nabi Muhammad saw?” Dengan racun inilah Ibnu Saba mulai menyebarkan kecaman terhadap khalifah Utsman bin ‘Affan ra,dan menyebarkan berita bohong kepada beberapa orang sahabat .Dari sini, ia telah membuka poros fitnah ,dengan Mesir dan Kuffah di satu pihak, melawan khalifah Utsman bin ‘Affan di pihak lain. Melalui poros fitnah ini pula merancang pembunuhan Utsman bin ‘Affan.

Setelah Utsman terbunuh dan Ali bin Abu Thalib terpilih sebagai khalifah, Abdullah bin Saba menjadi orang pertama yang menyatakan ba’iatnya kepada Ali bin Abu Thalib. Ia membawa dongeng tentang Yusa’bin Nun yang memperoleh wasiat dari nabi Musa as,untuk melegitimasi kekhalifahan Ali bin Abu Thalib.Menurutnya,Ali juga memperoleh wasiat dari Nabi Muhammad saw untuk menggantikan beliau.

Tak hanya itu,Ibnu Saba mulai melancarkan kecaman atas Abu Bakar, Umar, Utsman dan beberapa sahabat yang loyal kepada mereka. Ibnu Saba mengaku mendapat instruksi dari Ali bin Abu Thalib.

               Ali bin Abu Thalib,akhirnya menjatuhkan sanksi hukuman mati atas Ibnu Saba. Saat itu hadirn pada sidang itu memprotes, “Wahai amirul mukminin apakah anda akan menghukum orang yang mencintai anda dan ahlul bait, serta mendukung kepemimpinan anda dan bersikap menentang lawan-lawan anda?” Ali lalu membuang Abdullah bin Saba’ ke Madain (Ibu kota Iran waktu itu).

Saat Ibnu Saba tiba di Madain,tersebarlah berita kematian Ali bin Abu Thalib. Ketika itu seluruh umat Islam sedang berduka cita,Ibnu Saba malah menolak wafatnya khlifah Ali, seraya mengatakan; “Sekalipun kalian mendatangkan kepadaku 70 saksi yang adil menerangkan wafatnya Ali,aku sendiri yang akan menyatakan bahwa dia tidak mati,Ali tidak wafat,tak akan terbunuh sebelum ia menguasai seluruh permukaan bumi ini.”

 Maka mulailah Ibnu Saba menjadi orang pertama kali yang mempertuhankan Ali bin Abu Thalib.Ia mengatakan Ali tidak terbunuh, karena pada dirinya ada unsur ketuhanan.Ali sering menjelma dalam bentuk awan. Guruh adalah suaranya,petir adalah cemetinya.Demikianlah racun syirik yang disebarkan oleh Ibnu Saba.

 Sesungguhnya mempertuhankan manusia bukanlah hal yang aneh lagi bagi Yahudi. Mereka telah menuhankan Isa al-Masih setelah gagal melikuidasi agama Nashrani. Merekalah yang meletakkan ajaran trinitas atau tiga oknum tuhan dalam agama Kristen untuk mengacaukan umat pada saat itu.

 Sikap Ahlul Bait Nabi yang mulia juga sama dalam menentang Ibnu Saba sebagaimana yang dilakukan Ali bin Abi Thalib. Al-Kasyi meriwayatkan dengan sanadnya dari Muhammad bin Quluwaih, ia berkata ,”Telah diceritakan kepadaku oleh Ya’qub bin Yazid dan Muhammad bin Isa dari Ali bin Mahziar dari Fudhalah bin Ayyub Al-Azdi dari Aban bin Utsman berkata, Aku telah mendengar Abu Abdillah ra berkata,’Semoga Allah mengutuk Abdullah bin Saba’,ia telah mendakwahkan adanya unsur ketuhanan dalam diri Amirul Mukminan Ali bin Abi Thalib.Sementara, Demi Allah,beliau adalah orang yang sangat taat. Sungguh celaka orang yang berdusta atas nama kami dan sesungguhnya satu kaum mengatakan tentang apa yang tidak pernah kami katakan mengenai diri kami. Kami berlindung kepada Alloh dari mereka.” (Lihat Rijatul Kasyi,hal :100,Yayasan A’lami Karbala dan Tanhiqul Maqol fi Ahwar Rijal oleh Al-Mamaqami jilid II hal 183-184 cetakan Al-Muradhowiah 1350 H, dan Qanusuar Rijal jilid V hal :461).

 Al-Kasyi meriwayatkan dengan sanadnya dari Muhammad bin Quluwaih, telah berkata Ali bin Husain radiallahu ‘anhu, “Ssemoga Alloh mengutuk orang yang bedusta atas nama kami. Sutau ketika aku teringat pada Abdullah bin Saba’, tiba-tiba berdiri bulu roma di sekujur tubuhku. Ia telah mendakwahkan satu masalah besar yang sungguh tak layak diucapkannya. Semoga Alloh melaknatinya. Ali radiallahu ‘anhu adalah hamba Allah yang saleh , seukhuwah dengan Rasulullah shalallahu ‘alaihi was Salam. Ia tidak mendapatkan kemuliaan dari Allah, melaikan dengan ketaatannya dengan Allah dan Rasul-Nya, Sebagaimana Rasulullah Shalallahu ‘alaihi was salam tidak memperoleh kemuliaan , melainkan dengan taatnya kepada Allah.”Semua ini adalah riwayat Al-Kasyi yang berasal dari imam-iman Ahlul bait.

 Sebagaimana kita telah ketahui, Kitab Kasyi yang berjudul Ma’rifatun Naqihin ‘Ani aim Matish Shodiqin telah diteliti oleh Iman Syiah yang sangat terpercaya di kalangan mereka, yaitu Ath-Thusi yang mereka gelari Syaikhul Thaifah (Wafat tahun 460 H).

Sumber:

Tauhidi,Muhammad Pizaro Novelan.2014. Zionis &Syiah Bersatu Hantam Islam.Solo: Aqwam.

Post a Comment

أحدث أقدم